Batik dan Lingkungan: Warisan Budaya yang Perlu Dijaga Kelestariannya

Dok: Pelatihan Ecoprint Seni Hijau di PPLH Puntondo

Puntondo, Humas PPLH—
Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity pada tahun 2009. Sejarah batik sendiri sudah ada sejak ratusan tahun lalu, berkembang di berbagai daerah dengan corak dan filosofi yang berbeda-beda. Batik tidak hanya bernilai seni, tetapi juga sarat makna, karena setiap motif menyimpan pesan tentang kehidupan, alam, hingga doa untuk pemakainya.

Dok: Pelatihan Ecoprint Seni Hijau di PPLH Puntondo

Dalam proses pembuatannya, batik memiliki hubungan erat dengan lingkungan. Batik tradisional menggunakan bahan pewarna alami dari tumbuhan dan mineral, seperti daun indigo untuk warna biru, kulit kayu untuk warna cokelat, dan kunyit untuk warna kuning. Teknik ini membuat batik ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah berbahaya.

Namun, seiring berkembangnya industri batik modern, muncul tantangan baru bagi lingkungan. Pewarna sintetis, limbah cair, dan tingginya penggunaan air seringkali mencemari sungai serta merusak ekosistem jika tidak dikelola dengan baik. Bahkan, proses pelorodan yang masih menggunakan bahan bakar fosil turut menyumbang emisi karbon.

Sebagai respon, sejumlah perajin kini kembali menghidupkan tradisi batik ramah lingkungan atau eco-batik. Dengan memanfaatkan pewarna alami, sistem daur ulang air, hingga pemakaian energi terbarukan, eco-batik hadir sebagai solusi yang tidak hanya menjaga kualitas seni, tetapi juga mendukung keberlanjutan alam.

Di PPLH Puntondo sendiri, edukasi tentang batik ramah lingkungan diwujudkan melalui pelatihan ecoprint. Teknik ini menggunakan dedaunan, bunga, dan bahan alami lain sebagai pola pada kain, sehingga tidak menghasilkan limbah berbahaya bagi lingkungan. Selain menjaga kearifan lokal, ecoprint juga menjadi sarana kreatif untuk memperkenalkan pentingnya menjaga alam melalui karya seni tekstil.

Dok: Pelatihan Ecoprint Seni Hijau di PPLH Puntondo

PPLH Puntondo memandang batik ramah lingkungan sebagai media edukasi penting. Melalui batik, masyarakat dapat belajar bagaimana budaya dan alam saling terkait, sekaligus mendorong ekonomi lokal yang berkelanjutan. Kami mengajak sekolah, komunitas, dan masyarakat untuk mendukung pelestarian batik sekaligus menjaga lingkungan. Belajar membuat batik dengan pewarna alami, mengenal sejarah dan filosofinya, hingga mengurangi dampak pencemaran dari industri batik merupakan langkah kecil namun bermakna untuk keberlanjutan budaya dan alam kita bersama.

Dengan momentum Hari Batik Nasional 2025, mari bersama-sama melestarikan batik tidak hanya sebagai identitas budaya bangsa, tetapi juga sebagai wujud kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Batik ramah lingkungan adalah langkah nyata untuk merajut harmoni antara warisan budaya dan keberlanjutan bumi kita.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top