
Di tengah isu lingkungan global yang kian mengkhawatirkan—mulai dari perubahan iklim, pencemaran laut, hingga berkurangnya keanekaragaman hayati—kita diingatkan kembali pada pesan Islam yang begitu luhur: manusia adalah khalifah fil ardh, pemelihara bumi, bukan perusaknya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)
Ayat ini seolah menegaskan bahwa segala bentuk kerusakan lingkungan—pembalakan hutan, penebangan mangrove, pembuangan sampah plastik ke laut, hingga polusi udara—bukan hanya masalah sosial-ekonomi, tetapi juga dosa ekologis yang bertentangan dengan amanah Allah.
Islam menuntun kita untuk hidup seimbang (wasathiyah), tidak berlebih-lebihan (israf), dan memanfaatkan nikmat bumi dengan penuh rasa syukur. Setiap tetes air, hembusan angin, hingga butir tanah adalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah ﷺ pun memberi teladan sederhana: beliau tidak pernah berlebih-lebihan menggunakan air, bahkan ketika berwudhu.
Hari ini, ketika suhu bumi meningkat, cuaca makin tidak menentu, dan laut dipenuhi sampah plastik, kita diajak kembali merenung. Apakah gaya hidup kita sudah ramah lingkungan? Apakah kita sudah mengajarkan anak-anak untuk menanam pohon, mengurangi sampah, dan menjaga laut?
Menjaga bumi adalah bagian dari menjaga iman.
Setiap pohon yang kita tanam adalah sedekah jariyah. Setiap kebiasaan mengurangi plastik adalah bentuk dzikir kita kepada Allah lewat amal nyata.
Mari bersama-sama menjadikan gerakan peduli lingkungan sebagai ibadah kolektif. Karena bumi ini bukan warisan dari nenek moyang, melainkan titipan dari anak cucu kita.
“Barangsiapa menanam pohon, lalu manusia dan hewan mendapat manfaat darinya, maka itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Ahmad)
Salam Lestari, Salam Rahmatan lil ‘Alamin.
