
Puntondo, Humas PPLH —
Perubahan iklim bukan lagi isu jauh di depan mata, melainkan kenyataan yang sudah dirasakan hari ini. Cuaca ekstrem, kenaikan suhu, hingga bencana alam yang semakin sering terjadi menjadi bukti nyata bahwa bumi sedang berada dalam kondisi darurat. Salah satu penyumbang utama masalah ini adalah emisi gas rumah kaca, termasuk metana, yang terus meningkat dari berbagai sektor.
Survei terbaru Katadata Insight Center (2025) menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia menilai isu perubahan iklim sebagai persoalan serius. Menariknya, mayoritas juga mendukung langkah-langkah pengurangan emisi, termasuk metana, yang dikenal lebih berbahaya dari karbon dioksida dalam memperangkap panas di atmosfer. Fakta ini memberi sinyal positif bahwa kesadaran publik terus tumbuh, meski masih perlu diterjemahkan menjadi aksi nyata di tingkat lokal.
Metana: Gas Rumah Kaca yang Terlupakan
Dibandingkan dengan karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄) sering kali luput dari perhatian publik. Padahal, dampaknya jauh lebih besar. Dalam kurun waktu 20 tahun, metana memiliki kemampuan 80 kali lebih kuat dalam memerangkap panas di atmosfer dibanding CO₂. Sumber utama metana di Indonesia berasal dari aktivitas pertanian (terutama sawah dan peternakan), penanganan limbah, serta sektor energi, khususnya minyak dan gas.
Kenaikan emisi metana bukan hanya berdampak pada suhu global, tetapi juga mempercepat terjadinya fenomena cuaca ekstrem. Dari banjir bandang, kekeringan berkepanjangan, hingga perubahan pola hujan yang mengancam produksi pangan, semuanya berkaitan erat dengan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.
Indonesia dalam Peta Perubahan Iklim
Sebagai negara kepulauan tropis, Indonesia termasuk wilayah yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Naiknya permukaan laut dapat mengancam wilayah pesisir, termasuk desa-desa nelayan dan ekosistem mangrove yang menjadi pelindung alami. Selain itu, perubahan suhu laut juga memengaruhi kesehatan terumbu karang dan keberlangsungan ikan, yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir.
Sementara itu, di sektor pertanian, cuaca yang tidak menentu membuat petani sulit memprediksi musim tanam. Hal ini bisa berujung pada gagal panen dan meningkatnya harga pangan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa perubahan iklim bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga menyangkut ekonomi, sosial, dan ketahanan pangan bangsa.
Harapan dari Kesadaran Publik
Hasil survei Katadata memberikan secercah harapan. Fakta bahwa masyarakat mulai menempatkan isu perubahan iklim sebagai hal serius menunjukkan adanya ruang besar untuk bergerak. Kesadaran adalah langkah awal, namun tanpa tindakan, ia hanya akan berhenti pada wacana.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengubah kesadaran tersebut menjadi praktik sehari-hari. Mulai dari kebiasaan kecil—seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, beralih ke transportasi ramah lingkungan, hingga memilah sampah organik dan anorganik. Masyarakat juga perlu didorong untuk memahami bahwa setiap tindakan, sekecil apa pun, akan berkontribusi pada pengurangan emisi.
Aksi Nyata di Tingkat Lokal
Di sinilah pentingnya peran lembaga pendidikan lingkungan. Melalui program-program edukasi, misalnya kami di PPLH Puntondo mengajarkan kepada peserta didik, mahasiswa, hingga masyarakat bahwa isu global seperti perubahan iklim bisa dijawab dengan aksi lokal.
Misalnya, melalui pengelolaan kompos dari limbah dapur, masyarakat diajak untuk mengurangi emisi metana yang biasanya dilepaskan dari tumpukan sampah organik di tempat pembuangan akhir. Kompos ini kemudian dapat dimanfaatkan kembali untuk pertanian ekologis yang ramah lingkungan.
Selain itu, program konservasi mangrove juga menjadi langkah strategis. Mangrove terbukti mampu menyerap emisi karbon dalam jumlah besar, sekaligus melindungi garis pantai dari abrasi dan banjir rob. Dengan demikian, menjaga mangrove berarti tidak hanya menjaga pesisir, tetapi juga ikut menahan laju perubahan iklim.
Jalan Panjang Menuju Keberlanjutan
Meski tantangan besar, bukan berarti kita tidak bisa bergerak. Upaya pengurangan emisi, termasuk metana, harus dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor—pemerintah, swasta, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Regulasi yang ketat, pengawasan yang transparan, serta inovasi teknologi ramah lingkungan menjadi kunci untuk mengurangi dampak perubahan iklim.
Namun, lebih dari itu, diperlukan kesadaran moral kolektif bahwa bumi adalah warisan yang harus dijaga. Generasi mendatang berhak atas udara bersih, air yang sehat, dan lingkungan yang layak huni. Tanggung jawab itu ada di tangan kita hari ini.
Menutup dengan Harapan
Perubahan iklim adalah persoalan nyata yang tidak bisa ditunda. Emisi metana adalah salah satu faktor yang memperparah krisis ini. Namun, harapan masih terbuka lebar ketika kesadaran publik semakin tumbuh dan aksi nyata mulai dilakukan di berbagai tempat.
Bagi PPLH Puntondo, setiap langkah kecil menuju keberlanjutan adalah investasi besar bagi masa depan. Mulai dari mengelola sampah organik, menanam mangrove, hingga membangun gaya hidup ramah lingkungan—semua adalah kontribusi penting.
Karena menjaga bumi bukan hanya tugas generasi sekarang, tetapi amanah yang harus kita wariskan dengan baik kepada generasi mendatang.
